Nuansa Erotis Kebaya jawa

images (29)

Kebaya merupakan bentukan busana atasan yang dikenakan bersama kain oleh perempuan Jawa. Pada akhir abad ke- 19, kebaya juga populer sebagai busana para perempuan Belanda. Karena itulah, sampai sekarang, orang Jawa memiliki penilaian khusus dan kuat terhadap kebaya.

KI Nartosabdho dalam salah satu tembang membangun jejak kebaya itu. Dalam tembang “Mustakaweni”, dia meriwayatkan seorang pria paruh baya kesengsem, terpesona, pada seorang perempuan Jawa ayu dan kenes yang berkebaya dan berselendang biru.

Kira-kira begini tembangnya: Kedhep tesmak aku nyawang slendhang biru, gelungane methok, lamatan tasikane, ngagem kebayak ungu nyamping bathik, eseme solahe, salagane gawe bingung (Terpesona aku melihat selendang biru, konde menantang dengan bedak tipis, berkebaya, senyum dan gayanya bikin pusing).

Begitulah, pesona wanita berkebaya sanggup membuat sebagian pria kelimpungan. Bahkan di mata seseorang, terutama pria, yang tumbuh dan besar dalam iklim Jawa yang konservatif, sosok perempuan berkebaya identik dengan keseksian yang tersaji dalam satu paket keindahan. Tak hanya anggun menawan, tetapi juga eksotik, memancarkan aura sensualitas tersendiri.

Lihat, bagaimana kebaya berbahan brokat menerawang serta kain jarik yang membungkus tubuh dari pinggang hingga kaki selalu mengekspose jelas bentuk lekuk tubuh sang pemakai. Bagai siluet jam pasir yang berjalan, pinggul menawan itu memperlihatkan lekuk torso yang menggairahkan. Juga jarik yang dibalut ketat ke tubuh: menampilkan pantat yang terangkat sempurna.

Simbol Keseksian Meski terlihat ribet, busana khas Jawa itu tak membatasi gerak tubuh sang pemakai sehingga mereka masih sanggup melenggang seksi. Tak ayal, keindahan ragawi yang terpancar dalam balutan kebaya makin menggugah rasa penasaran dan penuh misteri.

Apalagi kalau bukan lewat cara bertutur yang halus dan tertata, dengan pandangan mata menggoda, menyambar dan menggetarkan jiwa para penikmat keindahan pesona kecantikan Jawa. Kebaya juga telah ditahbiskan sebagai simbol keseksian. Itu terbukti dari tarian sakral Bedhaya Ketawang di Surakarta. Sembilan orang perempuan penari yang menarikan tarian itu haruslah pilihan terbaik.

Mereka harus berwajah rupawan. Karena, kelak, tubuh mereka dibalut kain jarik, sedangkan bagian atas tubuh terbuka, memancarkan kulit kuning langsat yang berkilau lulur. Dengan rambut disanggul rapi, para penari bergerak gemulai, pelan mengikuti irama gending Jawa, yang seakan sedang menyampaikan sebuah pesan. Henk Schulte Nordholt dalam Outward Appearances (2005) menegaskan, tarian itu amat sakral sekaligus sarat makna berahi dan seksualitas.

Bahkan berkembang anekdot, para penari harus perawan karena raja akan memilih salah seorang penari untuk menemani tidur malam itu. Seksualitas yang kentara dalam tarian itu bukan pada bagian tubuh yang terbuka. Justru bagian tubuh yang sesekali terlihat mengintip di balik kain jarik yang dikenakan penari yang mengundang decak kagum dan rasa penasaran.

Ya, lekukan kaki di antara tumit dan mata kaki saat kaki menyapu kain jarik yang menjuntai ke bawah, itulah keseksian sejati yang tertangkap mata.

Ruang Politik

1352354740

Judul lukisan : Wanita Berkebaya Hijau, Karya M. Tamdjidin ini dikoleksi oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno di Istana Cipanas. 

Tak hanya itu, kebaya juga berperan di ruang politik. Sebut saja Soekarno. Mendiang mantan Presiden Republik Indonesia itu menyukai wanita berkebaya dan berkain jarik. Pada masanya, kain jarik dan kebaya bahkan muncul di kalangan elite di wilayah publik dan berstatus sebagai pakaian nasional.

Kesukaan Soekarno pada perempuan berkebaya diperkuat dalam disertasi Saskia Eleonora Wieringa (1995), The Politization of Gender Relations in Indonesia: The Indonesian Womenís Movement and Gerwani until the New Order State. Disebutkan, sikap Soekarno terhadap perempuan yang berkebaya cenderung hanya didasari rasa kagum dan hasrat tertahan.

Jika dikaitkan dengan kebudayaan, sensualitas dan seksualitas memang bukan hanya perkara kedekatan raga. Seks adalah bagian dari budaya, yang dipelihara, ditularkan secara turun-temurun, dan menjadi pedoman yang memengaruhi tindakan dan perilaku seseorang di masyarakat.

Kebudayaan serta latar belakang berbeda akan memengaruhi mereka dalam menilai seksualitas, sehingga seks pun dipandang dan dinilai relatif bagi setiap orang yang terbiasa hidup dalam berbagai keragaman. Maka tak salah jika hari ini, kebaya dikatakan memiliki nilai sejarah yang tinggi dan panjang.

—M Nafiul Haris, peminat kajian budaya dan sastra pada el-Wahid Center Semarang

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s